ASEAN Diminta Lebih Proaktif Hadapi Tatanan Dunia Baru Pascakonflik Global

Foto :Suasana diskusi dan berbagi pendapat dalam forum Wacana Intelektual Nusantara di Saloma Hall, Ampang – Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis, 25 Juni 2026 lalu. (Dok)

KUALA LUMPUR, PUSPIP – Perubahan tatanan geopolitik dunia yang ditandai meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dan China, menguatnya kelompok BRICS, serta konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah dan Eropa menjadi tantangan baru bagi negara-negara Asia Tenggara. Dalam situasi tersebut, ASEAN dinilai perlu memperkuat perannya agar tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan politik global.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Wacana Intelektual Nusantara bertajuk “The Emerging (Post-Conflict) Global Order: ASEAN, Indonesia and Malaysia in the Challenging Geopolitical Landscape Following the US-Iran Conflict” yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Forum tersebut merupakan kerja sama Majlis Perundingan Melayu (MPM), Pusat Pengajian Islam dan Peradaban (PUSPIP) sertaCentre for Human Rights Research and Advocacy (CENTHRA).

Mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Dr. Syed Hamid Albar, dalam pidato utamanya menilai istilah “post-conflict” atau pascakonflik tidak sepenuhnya tepat karena dunia tidak pernah benar-benar memasuki era tanpa konflik.

Menurutnya, bentuk konflik hanya berubah dari perang militer menjadi persaingan di bidang ekonomi, perdagangan, teknologi, keuangan, hingga perebutan pengaruh geopolitik.

Syed Hamid juga menyoroti masih adanya standar ganda dalam sistem internasional. Ia menilai negara-negara kecil cenderung lebih cepat dikenai sanksi ketika melanggar hukum internasional, sementara negara-negara besar kerap luput dari tindakan serupa.

“Penegakan keadilan internasional masih lebih banyak ditentukan oleh keseimbangan kekuatan politik dibandingkan prinsip hukum,” ujarnya.

Pandangan tersebut diperkuat dalam diskusi panel yang dipandu Datuk Kamaruddin Ahmad dengan menghadirkan Prof. Datuk Dr. Rahmar Mohamad dan Dr. Mohd. Ramlan Mohd. Arshad.

Para pembicara menilai ASEAN harus mulai membangun posisi strategisnya sendiri di tengah persaingan global yang semakin kompleks.

Saat Amerika Serikat memperkuat aliansi tradisionalnya, China terus memperluas pengaruh melalui BRICS, “Regional Comprehensive Economic Partnership” (RCEP), serta berbagai kerja sama ekonomi dan pembangunan. Dinamika tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap negara-negara ASEAN.

Dalam kondisi tatanan dunia yang semakin dinamis, ketidakpastian global dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, perdagangan, ketahanan energi, hingga keamanan kawasan. Karena itu, ASEAN didorong membangun daya tahan kolektif melalui penguatan kerja sama regional.

Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi yang dinilai dapat menjadi landasan penyusunan agenda pembangunan ASEAN pada abad ke-21.

Malaysia dan Indonesia disebut memiliki posisi strategis karena sama-sama menjadi anggota berbagai organisasi dan forum internasional, seperti ASEAN, G20, APEC, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan RCEP. Keanggotaan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat agenda ekonomi kawasan yang lebih mandiri dan berdaya saing.

Selain itu, forum menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sipil dalam memperkuat integrasi ASEAN. Penguatan kawasan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi perguruan tinggi, lembaga riset, media, organisasi masyarakat, serta sektor swasta.

Beberapa bidang kerja sama strategis yang diusulkan meliputi penguatan media dan informasi ASEAN, jejaring pendidikan dan universitas, kerja sama budaya, integrasi ekonomi, pengembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, keamanan siber, pertahanan kawasan, penyusunan sikap bersama terhadap isu-isu geopolitik global, serta penguatan implementasi Piagam ASEAN.

Para peserta menilai potensi ASEAN sangat besar dengan jumlah penduduk lebih dari 650 juta jiwa dan nilai produk domestik bruto kawasan yang mencapai triliunan dolar AS. Potensi tersebut dinilai akan semakin optimal apabila negara-negara anggota mampu bertindak sebagai satu komunitas strategis yang solid.

Forum juga menekankan perlunya perubahan pendekatan ASEAN, dari yang selama ini lebih bersifat reaktif menjadi lebih proaktif dalam merespons dinamika global. ASEAN dinilai perlu mulai membangun agenda strategisnya sendiri agar tidak sekadar menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi dunia, melainkan tampil sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan.

Wacana Intelektual Nusantara ditutup dengan penegasan bahwa jika pada abad ke-20 ASEAN dibentuk untuk menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan, maka pada abad ke-21 organisasi tersebut dituntut membangun kemakmuran bersama melalui penguatan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan solidaritas antarnegara anggota. (dms)

Tokoh tokoh yang hadir : Datuk Dr. Hasan Mad, Dr. Solomon Salamat MPM, Tan Sri Dr. Syed Hamid Albar, Dioni Ansyah Puspip, Irwan dan Syahbudin Embun. (dok)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *