Vietnam Berlari Kencang: Ekonomi Tumbuh 8,22%, Tertinggi di Asia Tenggara 2025

HANOI, PUSPIP — Vietnam kembali mencatatkan prestasi ekonomi luar biasa. Berdasarkan data resmi Badan Statistik Umum Vietnam (GSO), produk domestik bruto (PDB) negara itu tumbuh 8,22% pada kuartal ketiga 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini meningkat dari pertumbuhan kuartal kedua sebesar 7,96% dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara tahun ini.

Kinerja kuat ini mendorong proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan Vietnam berada di kisaran 7,5–8%, jauh melampaui tetangganya seperti Indonesia (5,1%), Filipina (6,0%), dan Malaysia (4,3%).

Menurut GSO, tiga sektor utama yang menopang pertumbuhan Vietnam adalah industri manufaktur, ekspor, dan konsumsi domestik.

Sektor industri—terutama elektronik, tekstil, dan otomotif—mencatat lonjakan ekspor hingga 9,8% sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam melaporkan bahwa ekspor ke Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang meningkat pesat, sementara investasi asing langsung (FDI) mencapai rekor baru sebesar USD 26,4 miliar per September 2025, naik 12% dibanding tahun sebelumnya.

“Kami melihat kepercayaan investor internasional terhadap Vietnam tetap tinggi, terutama berkat stabilitas politik, biaya tenaga kerja kompetitif, dan perbaikan infrastruktur industri,” kata Nguyen Thi Huong, Direktur Jenderal GSO, seperti dikutip VNExpress.

Salah satu magnet utama pertumbuhan Vietnam adalah posisinya sebagai alternatif strategis dari China dalam rantai pasok global.

Banyak perusahaan multinasional seperti Apple, Samsung, Foxconn, dan Lego memperluas pabrik atau membangun fasilitas baru di negara ini.

Ekonom Bank Dunia untuk Vietnam, Carolyn Turk, menjelaskan bahwa strategi “China+1” memberikan dorongan jangka panjang bagi ekonomi Vietnam. “Vietnam berhasil memanfaatkan momentum pergeseran industri global. Pemerintahnya mampu menciptakan lingkungan bisnis yang efisien, sekaligus memperkuat integrasi perdagangan melalui berbagai perjanjian bebas,” ujarnya.

Selain industri, konsumsi rumah tangga juga tumbuh pesat seiring meningkatnya daya beli masyarakat kelas menengah. Penjualan ritel dan jasa meningkat 9,2% dibanding tahun lalu. Lonjakan wisatawan asing—mencapai 11 juta orang sejak awal tahun—juga mendorong sektor pariwisata dan perhotelan bangkit pascapandemi.

Sektor jasa mencatat pertumbuhan 8,7%, tertinggi sejak 2019, sementara konstruksi dan properti menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat lesu pada 2024. (dms)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *