
MANILA, PUSPIP – Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Junior menyatakan siap berdamai dengan keluarga Duterte, dengan syarat tidak akan mengorbankan pelanggaran hukum.
“Presiden tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan atau diperintah ketika menyangkut kesalahan.” kata Petugas Pers Istana Claire Castro, Rabu.
“Dia tidak akan berpaling atau membengkokkan hukum hanya untuk melayani kepentingan pribadi segelintir orang,” jelasnya. “Presiden tidak akan melanggar hukum hanya demi rekonsiliasi,” tambahnya.
Ini juga merupakan tanggapan Castro terhadap kekhawatiran dari beberapa analis politik bahwa rekonsiliasi potensial dapat melemahkan upaya untuk mempertanggungjawabkan keluarga Duterte, terutama dengan Wakil Presiden Sara Duterte yang menghadapi sidang pemakzulan di Senat pada bulan Juli ini.
Mantan Presiden Duterte saat ini ditahan di Den Haag dan menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan di hadapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Sara Dutertes mengatakan Marcos harus dimintai pertanggungjawaban karena membiarkan penangkapan ayah mereka dan pemindahannya ke ICC.
Sudah banyak musuh
Dalam sebuah podcast pada hari Senin, Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. ditanya apakah dia bersedia berdamai dengan keluarga Duterte.
Tampaknya terkejut dengan pertanyaan tersebut, Bongbong Marcos menjelaskan bahwa prioritas utamanya adalah stabilitas, perdamaian, dan kemampuan untuk menjalankan tugas mereka di pemerintahan.
“Saya tidak suka konflik. Yang saya inginkan adalah bergaul dengan semua orang, kata Marcos setelah mengiyakan. “Saya sudah punya banyak musuh; saya tidak butuh lebih banyak. Apa yang saya butuhkan adalah teman-teman,” tambahnya.
“Itulah sebabnya saya selalu terbuka untuk hal-hal seperti itu.” jelas Marcos Jr. “Saya selalu terbuka untuk pendekatan apa pun seperti, ‘Ayo, mari kita bekerja sama,’ tambahnya.
Keluarga Duterte belum mengeluarkan komentar apa pun mengenai hal ini hingga saat ini.
Dalam pemilihan nasional 2022 lalu, Marcos Jr dan Wakil Presiden Duterte mencalonkan diri di bawah bendera UniTeam . Namun, setelah terpilih, aliansi politik mereka retak, dimana selaku Wakil Presiden Duterte mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri pendidikan tahun lalu.
Hubungan keduanya makin memanas, setelah Wakil Presiden Duterte mengungkapkan bahwa dia telah menginstruksikan seseorang untuk membunuh Marcos, istrinya, dan Ketua DPR Martin Romualdez.
Setelah penangkapan ayahnya pada bulan Maret, Wakil Presiden Sara Duterte mengkritik kemampuan Marcos Jr untuk memimpin dan berpikir jernih. (dms)
