Malaysia Berambisi Jadi Pusat AI dan Ekonomi Digital ASEAN

KUALA LUMPUR, PUSPIP – Malaysia tengah berupaya memantapkan diri sebagai pusat tepercaya bagi ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI) di ASEAN. Namun, di tengah laju perkembangan teknologi yang sangat cepat, ambisi saja tidak cukup. Kepercayaan, inklusivitas, dan kelincahan menjadi penentu apakah Malaysia akan memimpin atau justru tertinggal.

Pesan itu mengemuka dalam forum Malaysia Digital Xceleration (MDX) Summit 2025, yang menampilkan Dr Jasmine Begum, Direktur Regional Hukum dan Urusan Pemerintahan Microsoft ASEAN; Anuar Fariz Fadzil, CEO MDEC; dan Karamjit Singh, CEO Digital News Asia.

Seperti dilaporkan Malaysiakini dan Digital News Asia, para pembicara menyoroti bagaimana teknologi AI kini menjadi keniscayaan. “Tiga tahun lalu, tak ada yang membicarakan AI seperti sekarang. Komputasi meningkat dua kali lipat setiap beberapa minggu,” kata Anuar.

“Tantangannya bukan apa yang akan terjadi, tapi seberapa cepat kita bisa membangun fondasi kepercayaan.”

Menurut mereka, kepercayaan adalah pembeda utama Malaysia. Negara ini memiliki infrastruktur, teknologi, dan talenta digital, tetapi tanpa kepercayaan, organisasi internasional tidak akan mau membangun pusat data dan operasi digital di sini. “Dengan kepercayaan, Malaysia bisa menjadi digital embassy ASEAN — tempat operasi tangguh, data aman, hukum kuat, dan investor merasa tenteram,” ujar Jasmine.

Ia menekankan tiga hal penting untuk menumbuhkan kepercayaan digital: pelanggan harus memiliki kendali penuh atas data mereka; regulasi harus tahan masa depan dan tidak bersifat analog terhadap dunia digital; dan manusia harus dianggap sebagai sumber daya terbarukan yang terus dikembangkan. “Kita perlu melatih petugas etika, petugas privasi, dan spesialis AI. Inklusivitas harus menjadi jantungnya. Jangan ada yang tertinggal,” katanya.

Anuar menambahkan, era digital mengubah makna keterampilan. “Lima belas tahun lalu, menulis Microsoft Office di CV itu penting. Sekarang, itu akan dianggap lucu. Kita berlatih untuk pekerjaan yang belum ada,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa masa berlaku sebuah gelar kini hanya sekitar 15 bulan. Peningkatan keterampilan dan sertifikasi mikro bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk bertahan.

Keduanya sepakat bahwa kemitraan lintas sektor dan negara sangat penting. Microsoft, misalnya, menargetkan melatih 800.000 warga Malaysia, dan sudah melampaui angka 400.000. Di sisi lain, MDEC memimpin penyusunan kerangka kerja ASEAN untuk komputasi awan lintas batas yang diharapkan menjadi standar regional. “Solusi kami sudah digunakan di Eropa dan seluruh ASEAN. Dengan standar tepercaya, Malaysia bisa memimpin,” kata Anuar.

Namun, CEO Digital News Asia Karamjit Singh mengingatkan bahwa ambisi harus dibarengi pendanaan serius. “Omong kosong itu murah. Pertanyaannya, apakah anggaran menunjukkan keseriusan Malaysia?” ujarnya. Jasmine menambahkan, tanpa investasi nyata, negara akan tertinggal dari pesaing yang lebih kuat.

“Kepercayaan adalah imbal hasil investasi,” kata Jasmine. “Namun, kalau kita tidak mutakhir, kita akan rugi.” Anuar menutup dengan menyebut Malaysia sebagai “jantung ASEAN” selama masa kepemimpinannya tahun ini. Tapi momentum itu harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

Pada akhirnya, forum MDX 2025 menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah pilihan manusia dan keberanian untuk bertindak. Untuk memimpin, Malaysia harus membuktikan bahwa kepercayaan bukan sekadar slogan, melainkan mata uang terkuat di era digital. (dms)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *