Mahathir: Kebijakan Tarif Tinggi Amerika Justru Mendorong ASEAN ke China

KUALA LUMPUR, PUSPIP — Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menilai kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump akan menjadi bumerang bagi Washington dan mendorong negara-negara Asia Tenggara semakin dekat dengan China.

“Tarif yang tinggi memengaruhi pasar; merugikan pasar. Eksportir ke Amerika menghadapi masalah. Mereka tidak dapat menjual sebanyak dulu. Namun Amerika sendiri akan menghadapi banyak masalah,” kata Mahathir dalam wawancara dengan Koresponden “The Yomiuri Shimbun”, Tetsuya Mizuno, di Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Mahathir menjelaskan, Amerika tidak dapat memisahkan diri dari rantai pasok global karena industrinya bergantung pada impor, termasuk mikroprosesor dan mikrochip. “Trump sudah menghentikan impor barang elektronik karena ia tahu bahwa ia membutuhkannya. Ia sudah menyerah. Nantinya ia harus menyerah lebih banyak lagi,” ujarnya.

Menurutnya, tarif tinggi akan membuat barang-barang di AS menjadi mahal dan mendorong mitra dagang mencari sumber alternatif yang lebih murah. “Setelah mereka mendapatkannya dari sumber lain, mereka tidak akan kembali ke Amerika,” tegasnya.

Mahathir menilai, negara-negara lain harus memperkuat kerja sama untuk menjaga kelangsungan perdagangan dunia. “Perdagangan harus terus berlanjut. Negara-negara lain harus menggantikan Amerika dalam memasok barang-barang tertentu,” katanya.

Tokoh berusia 99 tahun itu menilai kebijakan Washington yang ingin berurusan langsung dengan masing-masing negara di Asia Tenggara justru melemahkan posisi kawasan. “Trump tidak ingin berpihak pada ASEAN. Ia ingin berurusan dengan masing-masing negara karena negara tersebut akan lemah. ASEAN bersatu dan menyatukan front dalam negosiasi dengan AS adalah pendekatan terbaik,” ujar Mahathir.

Ia menekankan bahwa ASEAN tidak sedang berpihak ke China, tetapi kebijakan Amerika sendirilah yang mendorong kawasan itu ke arah Beijing. “Amerikalah yang mendorong ASEAN ke Tiongkok. Jika Amerika tidak mengenakan tarif tinggi, kami ingin bersahabat dengan AS dan Tiongkok. Namun Amerika menolak ASEAN, dan mendorong kami ke Tiongkok,” katanya.

Bagi Malaysia, menurut Mahathir, kebutuhan utamanya adalah akses pasar. “Tiongkok adalah pasar terbesar bagi Malaysia. Jika Amerika memaksa kita, kita tidak punya pilihan selain pergi ke Tiongkok,” ujarnya.

Mahathir membandingkan situasi global saat ini dengan masa pasca-Perang Dunia II, ketika ekonomi dunia bangkit berkat Rencana Marshall yang membuka jalan bagi globalisasi dan perdagangan bebas. “Yang dilakukan Trump sekarang adalah membalikkan Rencana Marshall. Kita harus kembali ke sistem perdagangan dunia dan memberi WTO lebih banyak kekuasaan,” katanya.

Ia juga menyoroti kontribusi Jepang dalam industrialisasi Asia Tenggara dan menyatakan keyakinan bahwa Negeri Sakura akan bangkit kembali lewat inovasi di sektor-sektor baru seperti kedokteran. “Jepang adalah investor besar yang membantu Malaysia melakukan industrialisasi. Saya yakin Jepang akan pulih,” ujarnya.

Mahathir menutup dengan kritik terhadap krisis kepemimpinan global. “Sistem demokrasi telah gagal dalam pemilihan pemimpin. Banyak pemimpin yang buruk kini berkuasa, seperti mereka yang tidak percaya perubahan iklim atau yang menganggap perang sebagai solusi. Itulah sebabnya kita menghadapi banyak masalah,” katanya.

Mahathir Mohamad, mantan dokter yang kemudian menjadi politisi, menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dua kali — 1981–2003 dan 2018–2020 — serta dikenal lewat kebijakan “Look East Policy” yang meniru model pembangunan Jepang dan Korea Selatan. (dms).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *