
Rumah sakit di Singapura secara aktif merekrut pekerja kesehatan publik Malaysia, khususnya dokter, dengan tawaran gaji yang menggiurkan. foto: ihh.
KUALA LUMPUR, PUSPIP — Kementerian Kesehatan Malaysia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan dokter dan pekerja kesehatan dalam sistem kesehatan publik Malaysia, meskipun tidak memiliki kewenangan hukum untuk mencegah mereka menerima tawaran pekerjaan di luar negeri.
Melansir Kantor Berita Bernama, Menteri Kesehatan Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad mengatakan kementerian sedang menerapkan berbagai langkah untuk mendorong para pekerja kesehatan agar tetap bertahan, termasuk mempercepat pengangkatan posisi permanen di antara dokter kontrak.
“Kita tidak bisa menghalangi perekrutan lintas batas, itu hak individu. Hal ini juga sejalan dengan Perjanjian Pengakuan Bersama dan Perjanjian Kerangka Kerja ASEAN tentang Jasa,” katanya.
“Perjanjian-perjanjian ini memungkinkan mobilitas tenaga kerja di seluruh negara ASEAN, sebagaimana disepakati bersama. Oleh karena itu, kami ingin para dokter, spesialis, dan perawat kami yang telah menjalani pelatihan pasca-dasar tetap bekerja di sini,” ujarnya kepada para wartawan di megaprogram Pemberantasan Aedes Tingkat Nasional yang bertepatan dengan Hari Demam Berdarah ASEAN 2025.
Ia menanggapi klaim viral di media sosial bahwa rumah sakit di Singapura secara aktif merekrut pekerja kesehatan publik Malaysia, khususnya dokter, dengan tawaran gaji yang menggiurkan.
Diketahui, bulan depan akan digelar sesi rekrutmen langsung bagi dokter dan dokter umum di sebuah hotel di sini.
Datuk Seri Dr Dzulkefly mengatakan kementerian saat ini sedang mempercepat transisi dokter kontrak ke posisi tetap, mengingat kebutuhan mendesak negara akan tenaga medis profesional.
“Kami tidak akan menunda; kami sedang mempercepat proses penyerapan tenaga kontrak ke posisi tetap. Begitu ada lowongan, kami akan bertindak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem dokter kontrak awalnya diperkenalkan untuk mengatasi lonjakan lulusan kedokteran dan terbatasnya jumlah jabatan tetap selama dekade terakhir.
“Situasi itu tidak berlaku lagi, karena jumlah lulusan kedokteran telah menurun drastis. Seharusnya sekarang sudah ada cukup lowongan untuk pengangkatan permanen baru,” tambahnya. — Bernama/dms.
