
TEHERAN, PUSPIP – Ismail Haniyeh, pemimpin politik Hamas meninggal terbunuh di kediamannya di Teheran, Iran, Iran akibat serbuan Israel. Kelompok yang menguasai Gaza ini mendeskripsikan bahwa Haniyeh “tewas dalam serangan mematikan Zionis”.
“Gerakan Perlawanan Islam Hamas berduka cita untuk rakyat Palestina, untuk bangsa Arab dan Islam, dan untuk semua orang yang bebas di dunia,” ujar pihak Hamas dalam pernyataan yang dikutip BBC.
Ismail Haniyeh dilaporkan tewas Rabu (31/7/2024). Pembunuhan Haniyeh terjadi setelah Israel pada Selasa, melakukan serangan udara di Beirut, Lebanon, yang diklaim menewaksan seorang komandan tinggi Hizbullah.
Hamas mengatakan Ismail Haniyeh, yang pada April lalu kehilangan tiga putra dan empat cucunya dalam serangan udara di Gaza, sempat menghadiri upacara pelantikan presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (30/07) waktu setempat.
Kehadiran Haniyeh dalam seremoni tersebut menjadi penampilan publiknya yang terakhir.
Sebagian besar pemimpin Hamas memilih tidak banyak tampil di depan publik, sementara yang lainnya menghabiskan sebagian besar hidup mereka menghindari upaya pembunuhan oleh Israel.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menyampaikan belasungkawa menyusul tewasnya Ismail Haniyeh di Teheran. IRGC adalah kekuatan militer, politik dan ekonomi utama di Iran, dengan hubungan yang erat dengan pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Dilansir Sepah News, media resmi mereka, IRGC mengatakan mereka tengah menyelidiki “penyebab dan seberapa parah dampak dari insiden tersebut” dan akan mengumumkan hasilnya.
Mereka menyebut Haniyeh dan salah satu pengawalnya meninggal secara “syahid”.
Pembunuhan Ismail Haniyeh dilakukan dengan rudal berpemandu yang menargetkan kediaman pribadinya di Teheran, kata sumber dari media Saudi, Al Hadath.
Media tersebut melaporkan rudal itu menghantam kediaman Haniyeh sekitar pukul 02:00 waktu setempat – sebagaimana yang juga disebutkan oleh media pemerintah Iran.
Media Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menyebut Haniyeh ditempatkan di sebuah kediaman untuk para veteran di bagian utara Teheran, dan bahwa ia terbunuh oleh “proyektil dari udara”.
Pembunuhan Ismail Haniyeh telah membawa kawasan itu lebih dekat ke perang terbuka, kata Nader Hashemi, seorang profesor Studi Timur Tengah di Universitas Georgetown, kepada BBC.
Ismail Abdel Salam Haniyeh, yang akrab dipanggil Abu Al-Abd, lahir di kamp pengungsi Palestina. Dia adalah kepala biro politik gerakan Hamas dan pernah menjabat perdana menteri pemerintahan ke-10 Otorita Palestina.
Israel memenjarakan Haniyeh pada tahun 1989 selama tiga tahun. Setelah itu dia diasingkan ke Marj al-Zuhur – tanah tak bertuan antara Israel dan Lebanon – bersama sejumlah pemimpin Hamas, di mana ia menghabiskan setahun penuh hidup dalam kondisi genting pada tahun 1992.
Setelah masa pengasingan, Haniyeh kembali ke Gaza. Pada tahun 1997 dia diangkat menjadi kepala kantor Sheikh Ahmed Yassin, pemimpin spiritual gerakan Hamas, yang memperkuat posisinya.
Pada 16 Februari 2006, Hamas mencalonkannya sebagai perdana menteri Otorita Palestina, dan dia diangkat untuk duduk pada posisi itu empat hari setelahnya.
Satu tahun kemudian, Haniyeh diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden Otoritas Nasional Palestina, Mahmoud Abbas. Pencopotan ini terjadi usai Brigade Izz al-Din al-Qassam menguasai Jalur Gaza, mengusir perwakilan gerakan Fatah pimpinan Abbas dalam kekerasan berdurasi satu pekan yang memakan banyak korban jiwa.
Haniyeh menolak dipecat dan menyebutnya sebagai upaya inkonstitusional. Dia berkata, “pemerintahannya akan melanjutkan tugasnya dan tidak mengabaikan tanggung jawab nasionalnya terhadap rakyat Palestina.”
Haniyeh telah beberapa kali menyerukan rekonsiliasi dengan gerakan Fatah. Pada 6 Mei 2017, dia terpilih sebagai kepala Biro Politik Hamas. – BBC/dms
Artikel Lainnya
Dr. Anwar Ibrahim Batasi Jabatan PM Dua Periode
KUALA LUMPUR, PUSPIP — Perdana Menteri Malaysia Dr. Anwar Ibrahim kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong reforma…
Read MoreBanjir Landa Sejumlah Negara ASEAN, Ribuan Mengungsi dan Pemulihan Berjalan Bertahap
JAKARTA, PUSPIP — Banjir besar masih melanda sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sepanjang pekan ini, dipic…
Read MorePUSPIP Buka Pelatihan dan Sertifikasi BNSP untuk Chef, Cook Helper, hingga Waiter
BEKASI, PUSPIP – Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Pariwisata (PUSPIP) bekerja sama dengan Badan Nasional Se…
Read MoreHubungi Kami
Hubungi kami jika ada informasi yang ingin disampaikan melalui formulir dibawah ini.
PUSPIP memerlukan informasi kontak yang Anda berikan kepada kami untuk menghubungi Anda mengenai informasi yang ingin Anda tanyakan. Privasi dan komitmen kami untuk melindungi privasi Anda merupakan salah satu prioritas Kami.



