Harga Kopi Dunia Naik, Vietnam Raup Untung . Apa Tantangan Indonesia ?

HANOI, PUSPIP – Ketika harga kopi global melonjak hingga sekitar 40 persen pada 2024 akibat cuaca ekstrem dan perubahan iklim, eksportir kopi dunia menghadapi peluang luar biasa. Vietnam, sebagai pengekspor Robusta terbesar, berhasil memanfaatkan momentum ini dan mencetak lonjakan ekspor yang signifikan.

Pada Juli 2024 saja, nilai ekspor kopi Vietnam mencapai lebih dari 560 juta dolar AS, dan dalam tujuh bulan pertama menembus 3,6 miliar dolar AS — tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan. Vietnam kini menguasai sekitar 40 persen pangsa ekspor kopi dunia.

Namun, sebagian besar ekspornya masih berupa biji mentah. Produk olahan mendalam—seperti kopi instan, kopi sangrai, dan kopi spesial—baru menyumbang 12–15 persen dari total ekspor kopi Vietnam.

Para pelaku industri Vietnam menyadari bahwa agar keuntungan lebih besar bisa dinikmati, mereka harus memperkuat hilirisasi dan merek nasional. Investasi teknologi dan branding menjadi kunci, meskipun modal awal sangat besar dan tidak semua pelaku usaha memiliki kapasitas finansial dan teknologi untuk melakukannya. Tanpa itu, Vietnam bisa tetap menjadi penyedia bahan baku bagi perusahaan kopi besar dunia.

Tantangan bagi Indonesia

Kondisi global memberi angin segar bagi industri kopi Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kopi Indonesia pada 2024 melonjak sekitar 76,33 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi sekitar USD 1,64 miliar.

Pada periode Januari–September 2024 saja, volume ekspor kopi mencapai 342,33 ribu ton dengan nilai sekitar USD 1,49 miliar — naik ~29,8 persen dari periode sama tahun sebelumnya.

Di sisi olahan kopi, performa juga positif. Nilai ekspor kopi olahan Indonesia pada 2024 tercatat sebesar USD 647,8 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (USD 621,3 juta).

Dalam volume, ekspor kopi olahan mencapai sekitar 196,8 ribu ton senilai USD 661,9 juta.

Walaupun demikian, bagian olahan mendalam masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan ekspor kopi. Indonesia, meskipun telah melakukan ekspansi ekspor, masih banyak bergantung pada ekspor biji mentah. Tantangan teknologi, investasi, dan branding menjadi hambatan besar untuk menaikkan nilai tambah kopi Indonesia seperti yang dilakukan negara pesaing.

Graffiti positifnya adalah: Indonesia telah menunjukkan kapasitas ekspor yang meningkat tajam, mencetak rekor tertinggi dalam dekade terakhir untuk nilai ekspor kopi.

Namun keuntungan terbesar masih dinikmati pada tahap hilir di negara lain karena struktur ekspornya belum cukup diubah ke produk olahan premium. (dms)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *