
JAKARTA, PUSPIP – Bencana banjir besar dan banjir bandang yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera terus menunjukkan dampak yang kian parah. Data terbaru BNPB mencatat
korban meninggal Dunia : 1.269, hilang: 577, luka-Luka: 3.455, mengungsi dan menderita 9.720.892. Pemerintah pusat dan daerah terus melakukan operasi penyelamatan, evakuasi, serta pemulihan infrastruktur yang lumpuh akibat banjir dan longsor.
Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi wilayah yang paling terdampak. Ratusan titik longsor dan puluhan banjir bandang memutus jalur darat, merusak jembatan, serta mengisolasi banyak desa. Akses distribusi bantuan di beberapa lokasi masih terhambat karena jalan serta jembatan strategis tertimbun longsor atau hanyut diterjang arus deras.
BNPB menyebut situasi ini sebagai salah satu bencana paling mematikan di Sumatera dalam satu dekade terakhir. Pemerintah menyiapkan sejumlah jembatan darurat untuk membuka akses sambil melakukan perbaikan dalam jangka pendek.
Cuaca ekstrem, termasuk intensitas hujan tinggi dan fenomena atmosfer yang tidak stabil, disebut sebagai pemicu awal banjir bandang. Namun berbagai lembaga dan pakar meteorologi menegaskan bahwa faktor manusia jauh memperparah dampak bencana, terutama: Deforestasi masif di hulu sungai, Pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan, Erosi tanah akibat hilangnya tutupan hutan, Perubahan struktur DAS yang melemahkan daya serap air.
Sejumlah laporan memperkirakan sekitar 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar hilang sejak 2016, menjadikan kawasan tersebut sangat rawan banjir bandang.
Pemerintah telah menyatakan akan menyelidiki dugaan pelanggaran izin tambang, logging, dan konversi lahan yang diduga memperburuk dampak banjir kali ini.
Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan masih berupaya mengevakuasi warga serta mencari para korban hilang di beberapa wilayah terpencil. Lokasi yang paling sulit dijangkau berada di daerah perbukitan, di mana longsor menutup seluruh akses.
Pemerintah juga menargetkan perbaikan darurat beberapa jalur nasional sebelum 16 Desember. Di sejumlah daerah, suplai logistik masih terhambat sehingga bantuan udara dan transportasi air sedang ditingkatkan.
Lebih dari setengah juta pengungsi kini tersebar di ratusan titik. Tantangan terbesar yang dihadapi: kekurangan air bersih, sanitasi minim, risiko penyakit menular, kebutuhan logistik yang meningkat, fasilitas kesehatan yang terbatas.
Tim kesehatan masih melakukan penanganan darurat terhadap warga yang mengalami hipotermia, luka akibat material longsor, serta penyakit pernapasan.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa rehabilitasi kawasan hulu dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan ilegal, bencana serupa dapat berulang. Sumatera dinilai berada dalam situasi kritis dari sisi kualitas ekosistem. Banyak daerah yang kehilangan fungsi hidrologisnya, sehingga tidak mampu lagi menahan air hujan dalam volume besar.
Selain itu, para pakar ITB menyebut bahwa bencana kali ini merupakan interaksi kompleks antara cuaca ekstrem, geologi pegunungan, dan kerusakan lingkungan yang telah berlangsung bertahun-tahun. (dms)
KETERANGAN FOTO : Pemandangan lokasi terdampak banjir bandang di Sumatera . Kekurangan air bersih, sanitasi minim, risiko penyakit menular, kebutuhan logistik yang meningkat, fasilitas kesehatan yang terbatas. (foto: ist)
