Belanja Warga RI, Lebih Besar untuk Rokok Ketimbang Beras

JAKARTA PUSPIP — Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan fenomena mencengangkan di awal 2025: masyarakat Indonesia mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli rokok ketimbang beras, komoditas pangan pokok utama.

Dalam publikasi “When Cigarettes Become a Priority” yang dirilis Maret 2025, BPS mencatat rata-rata pengeluaran bulanan per kapita untuk rokok dan tembakau mencapai Rp91.708, sementara pengeluaran untuk beras hanya Rp89.278. Meski selisihnya tipis, data ini memperlihatkan pergeseran prioritas konsumsi rumah tangga di negeri berpenduduk terbesar keempat dunia itu.

“Porsi pengeluaran untuk rokok menempati posisi ketiga terbesar setelah makanan dan minuman jadi serta sereal,” tulis laporan BPS. Pola ini, menurut lembaga statistik tersebut, terjadi di hampir semua kelompok pendapatan, termasuk rumah tangga berpenghasilan rendah.

Ekonom dan pengamat sosial menilai fenomena ini menggambarkan persoalan struktural dan kultural yang dalam. “Rokok bukan sekadar konsumsi, tapi bagian dari budaya sosial. Namun dampaknya jelas: alokasi untuk pangan bergizi, pendidikan, dan kesehatan tersisih,” kata seorang peneliti ekonomi kesejahteraan.

Kementerian Kesehatan menilai temuan BPS itu menjadi alarm bagi upaya pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia, yang hingga kini memiliki prevalensi perokok tertinggi di Asia Tenggara. Biaya ekonomi akibat rokok—termasuk perawatan penyakit dan kehilangan produktivitas—diperkirakan mencapai miliaran dolar per tahun.

Pemerintah mengakui tantangan besar dalam menyeimbangkan kebijakan antara penerimaan cukai dan kesehatan publik. Namun para pengamat menegaskan, data BPS tersebut menunjukkan masalah yang lebih mendasar: sebagian besar masyarakat Indonesia masih menempatkan rokok di atas kebutuhan pokok mereka sendiri. (dms)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *