
JAKARTA, PUSPIP — Banjir besar masih melanda sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sepanjang pekan ini, dipicu hujan ekstrem dan intensitas monsun yang lebih kuat dari biasanya. Indonesia, Malaysia, dan Thailand menjadi wilayah paling terdampak, dengan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan aktivitas ekonomi dan sosial yang masih dirasakan hingga kini.
Di Indonesia, banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatra masih menjadi perhatian utama. Pemerintah mencatat korban tewas telah melampaui seribu orang, dengan ratusan lainnya sempat dilaporkan hilang di puncak bencana. Memasuki pekan ini, fokus penanganan bergeser dari tanggap darurat ke tahap pemulihan. Presiden menyatakan kondisi di wilayah terdampak diharapkan berangsur normal dalam dua hingga tiga bulan ke depan, seiring percepatan pembangunan hunian sementara, perbaikan infrastruktur, dan pemulihan layanan publik. Namun, di lapangan, ribuan warga masih bertahan di pos pengungsian karena rumah mereka rusak berat atau berada di zona rawan.
Badan penanggulangan bencana melaporkan akses jalan dan jembatan yang sempat terputus mulai dibuka secara bertahap, meski sejumlah daerah terpencil masih sulit dijangkau. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan lahan sawah terendam dan ancaman gagal panen di beberapa kabupaten.
Sementara itu di Malaysia, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di bagian utara dan barat, termasuk Kedah, Perak, dan Penang. Pemerintah setempat menyebut jumlah pengungsi mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya, namun ribuan warga masih berada di pusat-pusat evakuasi. Upaya pembersihan lumpur dan pendataan kerusakan rumah terus dilakukan, bersamaan dengan distribusi bantuan logistik dan layanan kesehatan. Otoritas setempat juga mengingatkan potensi banjir susulan jika hujan lebat kembali turun dalam beberapa hari ke depan.
Di Thailand, hujan deras yang melanda wilayah selatan dan sebagian tengah negara itu menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman. Pekan ini, pemerintah Thailand menyatakan sebagian besar wilayah telah memasuki fase pemulihan, meski kerusakan infrastruktur lokal, termasuk jalan desa dan fasilitas umum, masih cukup signifikan. Sejumlah sekolah dilaporkan belum dapat beroperasi normal akibat kerusakan bangunan dan genangan yang belum sepenuhnya surut.
Laporan mingguan kebencanaan regional mencatat banjir kali ini berdampak lintas negara, dengan pola hujan ekstrem terjadi hampir bersamaan di beberapa titik Asia Tenggara. Para ahli iklim menilai fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan iklim global yang meningkatkan suhu permukaan laut dan memperkuat sistem cuaca basah, sehingga hujan menjadi lebih intens dan berlangsung lebih lama.
Dampak ekonomi juga mulai diperhitungkan. Gangguan distribusi barang, kerusakan lahan pertanian, serta biaya rekonstruksi diperkirakan memberi tekanan pada perekonomian nasional di masing-masing negara terdampak. Di Indonesia, sejumlah analis mengingatkan bahwa pemulihan pascabanjir akan membutuhkan alokasi anggaran besar, terutama untuk perbaikan infrastruktur dasar dan mitigasi bencana jangka panjang.
Di tingkat regional, bencana ini kembali menyoroti kerentanan negara-negara ASEAN terhadap cuaca ekstrem. Lembaga kemanusiaan dan badan penanggulangan bencana ASEAN mendorong penguatan kerja sama lintas negara, terutama dalam sistem peringatan dini, pengelolaan daerah aliran sungai, serta penataan ruang yang lebih berkelanjutan.
Memasuki akhir pekan, prakiraan cuaca di sebagian wilayah ASEAN masih menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat. Pemerintah di masing-masing negara mengimbau masyarakat tetap waspada, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, sembari memastikan bahwa proses pemulihan berjalan tanpa mengabaikan kesiapsiagaan terhadap bencana susulan. (dms)
KETERANGAN FOTO : Bencana alam yang terjadi di sejumlah negara ASEAN ini kembali menyoroti kerentanan negara-negara Asia Tenggara terhadap cuaca ekstrem (dms)
