
CEBU, FILIPINA, PUSPIP — Menteri-menteri luar negeri ASEAN menggelar ASEAN Foreign Ministers’ Retreat pada 29 Januari 2026 di Cebu, Filipina, membuka agenda diplomatik utama ASEAN tahun ini di bawah kepemimpinan Filipina sebagai Ketua ASEAN 2026.
Pertemuan ini merupakan pertemuan besar pertama di bawah Pilar Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (APSC) di bawah Kepemimpinan ASEAN Filipina tahun 2026 dengan tema “Menavigasi Masa Depan Kita, Bersama.”
Kami mengadakan diskusi yang jujur, bijaksana, konstruktif, dan mendalam tentang tindak lanjut KTT ASEAN ke-47 dan KTT terkait serta hubungan eksternal ASEAN, serta perkembangan regional dan internasional dengan tujuan untuk memastikan keberlanjutan dan memajukan persatuan dan sentralitas ASEAN, demikian para Menlu dalam pernyataan bersama.
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang menyoroti tantangan regional yang mendesak, para menteri membahas isu-isu kunci termasuk ketegangan di Laut China Selatan, perang sipil yang berkepanjangan di Myanmar, dan konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja.
Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro menyatakan bahwa lingkungan keamanan global semakin kompleks dan menegaskan komitmen ASEAN untuk mempertahankan aturan hukum internasional, dialog, dan prinsip penyelesaian damai dalam menghadapi dinamika geopolitik.
Soal krisis Myanmar, ASEAN belum mencapai konsensus untuk mengakui hasil pemilu yang diklaim dimenangkan oleh partai pendukung militer. Blok kawasan itu menegaskan perlunya kemajuan nyata dalam implementasi “Konsensus Lima Poin” untuk mendorong proses perdamaian.
Di samping itu, anggota ASEAN sepakat mempercepat pembicaraan dengan China untuk menyelesaikan Kode Etik Laut China Selatan yang lama tertunda, sebuah langkah penting untuk meredam ketegangan maritim di kawasan.
Pertemuan ini juga menjadi momentum bagi ASEAN untuk memperkuat kerja sama regional, menjaga stabilitas, dan menghadapi tantangan global bersama sepanjang tahun 2026. (dms)
