
JAKARTA, PUSPIP – Hujan deras berintensitas tinggi kembali memicu banjir di sejumlah wilayah Jakarta pada hari ini, mengganggu aktivitas warga dan lalu lintas ibu kota. Curah hujan yang turun sejak malam hingga pagi hari menyebabkan genangan di kawasan Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan sebagian Jakarta Barat, dengan ketinggian air bervariasi dari 30 hingga lebih dari 70 sentimeter di titik-titik tertentu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan genangan terjadi terutama di kawasan permukiman padat penduduk dan ruas jalan utama. Sejumlah kendaraan terjebak banjir, sementara aktivitas perkantoran dan sekolah mengalami keterlambatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan pompa air tambahan serta personel lapangan untuk mempercepat surutnya genangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Jabodetabek. Pemerintah daerah juga melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem yang diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Opsi kebijakan bekerja dari rumah (work from home) dan pembelajaran jarak jauh kembali disiapkan apabila kondisi memburuk.
Banjir di Jakarta hari ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa pekan terakhir, cuaca ekstrem juga memicu bencana hidrometeorologi di berbagai kawasan Asia Tenggara, memperkuat kekhawatiran tentang meningkatnya risiko iklim di wilayah ini.
Di Thailand, hujan monsun yang lebih intens dari biasanya menyebabkan banjir di sejumlah provinsi, khususnya di wilayah selatan dan tengah. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat meluapnya sungai dan jebolnya tanggul, sementara infrastruktur transportasi dan pertanian terdampak signifikan. Pemerintah Thailand menetapkan status darurat di beberapa daerah untuk mempercepat distribusi bantuan.
Sementara itu di Malaysia, hujan berkepanjangan menyebabkan banjir di beberapa negara bagian, termasuk wilayah pesisir dan kawasan dataran rendah. Otoritas setempat melaporkan peningkatan jumlah pengungsi serta gangguan pada jaringan jalan dan pasokan listrik di daerah terdampak.
Di Filipina, kombinasi hujan lebat dan sistem tekanan rendah memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah, memaksa pemerintah setempat melakukan evakuasi preventif. Negara kepulauan tersebut memang kerap berada di jalur cuaca ekstrem, namun intensitas kejadian kali ini dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman.
Lembaga meteorologi regional dan internasional mencatat bahwa peningkatan curah hujan ekstrem di Asia Tenggara berkaitan dengan dinamika iklim global, termasuk pemanasan suhu permukaan laut dan pola monsun yang semakin tidak menentu. Fenomena ini meningkatkan risiko banjir perkotaan, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Jakarta, Bangkok, dan Manila.
Bagi kawasan ASEAN, rangkaian banjir ini menjadi pengingat akan pentingnya kerja sama regional dalam mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim. Dari penguatan sistem peringatan dini hingga investasi infrastruktur tahan iklim, tantangan cuaca ekstrem kini menjadi isu bersama yang melampaui batas negara. (dms)
