
JAKARTA , PUSPIP – ASEAN dan India sepakat mempercepat penyelesaian ASEAN–India Trade in Goods Agreement (AITIGA), perjanjian dagang yang selama ini menjadi dasar hubungan perdagangan barang antara kedua pihak. Kesepakatan untuk mempercepat negosiasi ini diambil dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN–India, awal November 2025, dan ditargetkan selesai pada akhir tahun depan.
Langkah percepatan ini disambut positif oleh sejumlah pemimpin ASEAN. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut kerja sama ASEAN–India sebagai “kekuatan stabilitas dan kemakmuran bersama” di kawasan. Ia menegaskan, penyelesaian cepat AITIGA akan membantu membuka akses pasar baru, memperkuat rantai pasok regional, dan meningkatkan investasi lintas kawasan.
Menurut laporan Times of India dan The Hindu, pembaruan AITIGA akan menyesuaikan aturan dagang dengan kondisi ekonomi terkini, termasuk penyesuaian tarif, penyederhanaan prosedur bea cukai, serta peningkatan transparansi untuk pelaku usaha kecil dan menengah. India juga berharap revisi AITIGA dapat mengurangi defisit perdagangannya dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Indonesia dan Vietnam.
Dari pihak ASEAN, Indonesia dan Singapura menjadi dua negara yang aktif mendorong percepatan pembahasan. Kementerian Perdagangan RI menyatakan bahwa penyederhanaan aturan asal barang (rules of origin) sangat penting agar produk ekspor dari pelaku usaha kecil dapat lebih mudah memanfaatkan fasilitas bebas tarif ke pasar India.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, nilai perdagangan antara ASEAN dan India mencapai lebih dari US$ 110 miliar pada 2024, menjadikan India mitra dagang terbesar keenam ASEAN. Sebaliknya, ASEAN kini menjadi mitra dagang terbesar keempat bagi India, melampaui Uni Eropa.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Malaya, Dr. Norshahril Saat, menilai percepatan perjanjian ini menunjukkan keseriusan ASEAN untuk menjaga keseimbangan hubungan ekonomi di tengah dominasi China di kawasan. “Kerja sama dengan India memberi ASEAN posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok global dan meminimalkan ketergantungan pada satu mitra besar,” ujarnya kepada The Straits Times. (dms)
