
KUALA LUMPUR, PUSPIP — Sebanyak sembilan warga Malaysia ditahan pasukan Israel setelah kapal yang mereka tumpangi dalam misi kemanusiaan Freedom Flotilla Coalition (FFC) dicegat di perairan internasional, sekitar 120 mil laut dari Jalur Gaza, pada Rabu (8/10/2025) pukul 10.50 waktu Malaysia.
Kementerian Luar Negeri Malaysia mengonfirmasi penahanan tersebut dalam pernyataan resminya, Kamis (9/10). Para relawan itu merupakan bagian dari gelombang ketiga armada kemanusiaan menuju Gaza, yang membawa jurnalis internasional, tenaga medis, akademisi, serta aktivis kemanusiaan dari berbagai negara.
Kesembilan warga Malaysia yang ditahan adalah Prof. Emeritus Dr. Mohd Alauddin Mohd Ali, Dr. Fauziah Mohd Hassan, Dr. Hafiz Sulaiman, Dr. Ili Syakira Mohd Suhaimi, Prof. Dr. Mohd Afandi Salleh, Dr. Noorhasyimah Ismail, Norsham Abu Bakar, Dr. Maziah Muhammad, serta jurnalis Astro Awani, Syafik Shukri Abdul Jalil.
Menurut laporan Bernama dan The Star, delapan di antara mereka berada di kapal Conscience, sementara satu lainnya, Dr. Maziah Muhammad, berlayar di kapal Umm Saad. Kedua kapal tersebut merupakan bagian dari kerja sama Freedom Flotilla Coalition (FFC) dan The Malaysian Team for Gaza (TMTG), yang berangkat dari Turki menuju Gaza untuk menyalurkan bantuan medis dan pangan bagi warga Palestina.
Setelah kapal dicegat, para relawan dibawa ke pelabuhan Ashdod sebelum ditahan di Penjara Ketziot, wilayah Negev, Israel. Pemerintah Malaysia segera berkoordinasi dengan otoritas Turki dan lembaga kemanusiaan internasional guna memastikan keselamatan seluruh warganya.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, mengecam keras tindakan Israel yang menahan para aktivis di perairan internasional. “Malaysia menuntut pembebasan segera seluruh warga negara kami dan semua relawan kemanusiaan yang ditahan secara tidak sah,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Setelah ditahan selama dua hari, kesembilan warga Malaysia akhirnya dibebaskan pada Jumat (10/10). Mereka diterbangkan ke Istanbul dan tiba kembali di Kuala Lumpur pada Minggu (12/10), disambut keluarga dan pejabat Kementerian Luar Negeri di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Dalam wawancara usai tiba di tanah air, Dr. Fauziah Mohd Hassan menyebut pengalaman itu sebagai “ujian berat namun memperkuat tekad kemanusiaan”. Ia menegaskan bahwa misi mereka sepenuhnya damai dan bertujuan membawa bantuan bagi korban perang di Gaza. “Kami tak membawa senjata, hanya membawa harapan,” ujarnya kepada Bernama.
Freedom Flotilla Coalition merupakan jaringan internasional yang menentang blokade Israel atas Jalur Gaza. Tahun ini, armada kemanusiaan diikuti perwakilan dari lebih dari 20 negara, termasuk Malaysia, Indonesia, Turki, dan Norwegia.
Malaysia telah berpartisipasi dalam sejumlah misi flotilla sejak 2010, termasuk misi Mavi Marmara yang berujung pada serangan berdarah oleh pasukan Israel. Pemerintah Malaysia menyatakan akan terus mendukung perjuangan kemanusiaan bagi rakyat Palestina melalui jalur diplomatik dan kerja sama internasional. (dms)
