
JAKARTA, PUSPIP – Dialog Regional tentang Kehidupan Muslim sebagai Minoritas menjadi tema utama sebuah roundtable yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Majelis Perundingan Melayu (MPM) di Malaysia dan Pusat Pengembangan dan Informasi Pembangunan (PUSPIP) dari Indonesia serta Philipines Muslim Mindanao Consultative Council Inc. (PMMCC) di Mindanao Filipina.
Program ini menghimpun para cendekiawan, diplomat, pemimpin masyarakat, serta wakil organisasi untuk membahas tantangan dan tanggung jawab umat Islam yang hidup sebagai minoritas di berbagai belahan dunia.
Dari Malaysia tampil Dato Dr Hasan Mad (MPM), Dato Salamon Selamat (MPM), Dato Kamarudin Ahmad (Lawyer), Dr Yahya Mat Hassan (MPM), Dr Aziwahija (Silat Grand Master), Datuk Mohd Yusof Kasim (MPM), Hj Ab Halim Abdullah (ABIM), Zulkafly Baharuddin (MPM), Dato Ahmad Sharifuddin Abd Kadir (MPM), Mustafa Mansor (MEMO), Datuk Seri Azman binUjang (Journalist), Hj Abd Razak Kassim (MPM) Sdr Ridhwan Rusli (MPM) Syakir Rusyan Ruslan (MPM) dan Shahbudin Embun (MPM).
Dari Mindanao hadir melalui online Dr Zulfikar Abantas (PMMCC – Philipines Muslim Mindanao Consultative Council Inc). Sedangkan dari Indonesia Dioni Ansyah selaku Presiden PUSPIP dan Dimas Supriyantoselaku Executive Director.
Acara dimulai dengan sambutan penuh penghormatan, yang mengingatkan para hadirin tentang konteks mendesak forum ini. Umat Islam sebagai minoritas kini menghadapi gelombang Islamofobia, sentimen anti-imigran, serta tekanan politik yang semakin meningkat. Namun, para peserta diingatkan bahwa tantangan ini bukan alasan untuk mundur, melainkan panggilan untuk bangkit—menguasai ilmu modern, berkontribusi bagi masyarakat setempat, serta menjaga solidaritas dengan umat Islam di seluruh dunia, khususnya saudara-saudara kita di Palestina.
Roundtable ini menetapkan lima tujuan utama:
Menjelaskan posisi umat Islam minoritas di negara-negara mayoritas non-Muslim.
Menekankan pentingnya adaptasi, penguasaan ilmu, dan kontribusi sebagai jalan menuju kewarganegaraan yang bermakna.
Mendorong perdamaian serta menghindari politik praktis yang memecah belah.
Menegaskan solidaritas bersama Palestina sebagai tuntutan moral dan kemanusiaan.
Menghasilkan sebuah komunike bersama sebagai pedoman moral dan visi strategis.
Tujuan-tujuan inilah yang menjadi kerangka bagi pidato utama dan diskusi terbuka.
Acara semakin semarak dengan pidato para tokoh undangan yang memberikan pandangan mendalam tentang pengalaman umat Islam minoritas serta konteks global yang lebih luas. Dalam waktu 10–12 menit, masing-masing menekankan pentingnya pendidikan, kepemimpinan, pemahaman antaragama, dan penguatan akar rumput.
Sebagian menekankan peran umat Islam sebagai duta nilai-nilai universal Islam di negara mereka, sementara yang lain mengingatkan bahaya politik identitas yang dapat melemahkan persatuan. Benang merah yang menghubungkan seluruh pandangan adalah keharusan bagi umat Islam untuk tampil bukan hanya sebagai komunitas yang terpinggirkan, tetapi sebagai kontributor bagi pembangunan negara.
Selanjutnya, sesi diskusi interaktif dibuka bagi semua peserta. Dengan panduan moderator, berbagai suara dimunculkan, mulai dari sarjana hingga aktivis, dari pemimpin lokal hingga diplomat internasional.
Beberapa usulan penting yang muncul antara lain:
- Memperkuat program pendidikan bagi generasi muda Muslim di wilayah minoritas.
- Membangun kemitraan dengan masyarakat sipil yang lebih luas dalam isu keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia.
- Membentuk platform dialog berkelanjutan antar pemimpin komunitas Muslim minoritas di seluruh dunia.
- Menjadikan solidaritas terhadap Palestina sebagai agenda jangka panjang dalam advokasi dan kerja kemanusiaan.
Usulan-usulan ini kemudian disusun untuk dimasukkan ke dalam komunike akhir.
Puncak dari roundtable ini adalah pembacaan Komunike Bersama yang merangkum inti perbincangan dan komitmen kolektif. Dokumen ini dibacakan dengan penuh khidmat dan diterima tanpa bantahan, menandai kesepakatan seluruh pihak.
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada semua pembicara, peserta, dan penyelenggara, baik yang hadir secara langsung maupun daring. Pesan terakhir begitu jelas: inisiatif ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan bersama.
Roundtable Majelis Permusyawaratan Melayu (MPM) dan PUSPIP ini bukan hanya membuka mata terhadap tantangan umat Islam minoritas, tetapi juga menumbuhkan benih jaringan global yang bertekad membangun perdamaian, keadilan, dan kontribusi bermakna di mana pun mereka berada.
Seperti yang dinyatakan oleh seorang peserta: “Hidup sebagai Muslim minoritas bukan sekadar bertahan, tetapi memimpin dengan teladan, menunjukkan keindahan Islam melalui ilmu, pengabdian, dan persatuan.”
Semoga Allah memberkahi upaya ini dan membimbing kita menuju dunia yang lebih adil dan damai bagi semua. (dms)
